Kamis, Mei 07, 2026

Semua yang Pakai Komputer Belum Tentu Masuk CSV

Cara Simpel Memahami Sistem Komputerisasi ala GAMP 5

Banyak orang mengira:

“Kalau ada komputer berarti harus divalidasi.”

Padahal… belum tentu.

Di dunia farmasi, khususnya menurut konsep GAMP 5, kita harus bisa membedakan:

  • mana sekadar alat biasa,
  • mana sistem komputerisasi,
  • mana yang masuk area GxP,
  • dan mana yang tidak.

Karena kalau semuanya divalidasi…
kerjaan QA bisa berubah jadi kolektor dokumen ๐Ÿ˜…


๐Ÿ  Analoginya: Rumah Pintar

Bayangkan sebuah rumah.

Di dalam rumah ada:

  • lampu otomatis,
  • CCTV,
  • smart TV,
  • aplikasi buka pagar,
  • sensor suhu kulkas,
  • sampai alarm kebakaran.

Pertanyaannya:

Apakah semuanya harus diawasi seketat alat medis rumah sakit?

Jawabannya: tidak.

Kenapa?

Karena kita lihat:

  1. fungsi sistemnya,
  2. dampaknya,
  3. dan risikonya.

Nah, konsep ini mirip dengan cara berpikir GAMP 5.


๐Ÿ’ป Jadi, Apa Itu Sistem Komputerisasi?

Secara sederhana:

Sistem komputerisasi adalah sistem yang memakai komputer/software untuk memproses, menyimpan, mengontrol, atau menghasilkan data/informasi.

Bukan cuma laptop.

Bahkan mesin produksi modern pun bisa termasuk.


๐Ÿ“ฆ Contoh Sistem Komputerisasi di Berbagai Bidang

๐Ÿญ Industri Farmasi

  • MES (Manufacturing Execution System)
  • LIMS
  • SCADA
  • ERP
  • Sistem monitoring suhu
  • Timbangan digital terhubung software
  • Mesin filling otomatis

๐Ÿฆ Perbankan

  • Mobile banking
  • Sistem ATM
  • Fraud detection
  • Core banking system

๐Ÿฅ Rumah Sakit

  • Rekam medis elektronik
  • Sistem lab
  • Sistem radiologi
  • Monitoring pasien ICU

๐Ÿ›’ Retail

  • Kasir POS
  • Sistem stok gudang
  • Self-checkout

๐Ÿš— Transportasi

  • Sistem tiket kereta
  • Navigasi pesawat
  • E-toll

๐ŸŽ“ Pendidikan

  • E-learning
  • CBT ujian online
  • Sistem absensi fingerprint

๐Ÿง  Tapi… Mana yang Disebut GxP?

Ini bagian pentingnya.

Tidak semua sistem komputerisasi itu masuk GxP.


๐Ÿ” Apa Itu GxP?

GxP adalah aturan untuk memastikan:

  • produk aman,
  • berkualitas,
  • dan data bisa dipercaya.

Huruf “x” bisa berubah:

  • GMP
  • GLP
  • GCP
  • GDP
    dll.

๐ŸŽฏ Cara Simpel Menentukan GxP atau Tidak

Tanya saja:

❓ “Kalau sistem ini error… apakah bisa berdampak pada:

  • kualitas produk?
  • keselamatan pasien?
  • integritas data?
  • keputusan regulatori?”

Kalau jawabannya:

“Iya”

Maka kemungkinan besar itu GxP system.


๐Ÿ“Œ Contoh GxP dan Non-GxP

SistemGxP?Kenapa
Sistem suhu cold room vaksinPengaruh kualitas produk
LIMS laboratorium QCData hasil uji
Mesin filling otomatisPengaruh dosis produk
CCTV parkiranTidak pengaruhi kualitas
Absensi kantorTidak terkait produk
TV ruang meetingTidak terkait pasien/data mutu
ERP pembelian bahan baku⚠️ Bisa iyaKalau pengaruhi traceability
Excel perhitungan hasil QCDipakai keputusan mutu

⚠️ Kesalahan yang Sering Terjadi

❌ “Pakai komputer = pasti CSV”

Salah.

❌ “Bukan mesin produksi = bukan GxP”

Juga salah.

Kadang:

file Excel sederhana justru lebih kritikal daripada mesin mahal.

Karena dipakai release produk.


๐Ÿงฉ Konsep Penting GAMP 5

GAMP 5 mengajarkan:

Fokus ke risiko, bukan sekadar formalitas.

Jadi:

  • semakin kritikal sistem,
  • semakin ketat kontrolnya.

Bukan semua diperlakukan sama.


๐ŸŽฎ Analogi Paling Simpel

Bayangkan game online.

Chat emoticon

Kalau error → santai ๐Ÿ˜…

Sistem ranking kompetitif

Kalau error → chaos ๐Ÿ”ฅ

Karena dampaknya beda.

Nah, GAMP 5 juga berpikir seperti itu.


✨ Intinya

Tidak semua yang memakai komputer harus divalidasi penuh.

Yang paling penting adalah memahami:

“Seberapa besar dampak sistem itu terhadap kualitas, pasien, dan kepercayaan data.”

Karena di dunia farmasi…

yang dijaga bukan cuma sistemnya.

Tapi juga:

keselamatan manusia di balik datanya.

Selasa, Mei 05, 2026

CSV Itu Bukan Formalitas, Ini Soal Kepercayaan

Di dunia farmasi, sistem komputer itu bukan cuma alat bantu. Dia bisa menentukan: produk aman atau nggak, data valid atau manipulatif.

Makanya ada yang namanya GAMP 5—panduan biar sistem yang kita pakai itu trusted.

Dan di dalam Computerized System Validation (CSV), ada beberapa check item minimal yang nggak boleh dilewatkan, apalagi kalau pakai pendekatan berbasis risiko (risk-based approach).

Kenapa? Karena kita nggak ngecek semuanya, tapi fokus ke yang paling berdampak.

CSV



๐Ÿ” 1. Intended Use (Tujuan Sistem)

Ini basic, tapi sering disepelekan.

Sistem ini sebenarnya dipakai buat apa?

Kalau tujuan aja nggak jelas, validasinya mau dibuktikan apa?


⚠️ 2. Risk Assessment (Analisis Risiko)

Ini inti dari GAMP 5.

Kalau sistem ini gagal, dampaknya apa?

  • Ke kualitas produk?
  • Ke keselamatan pasien?
  • Ke integritas data?

Semakin tinggi risiko → semakin ketat validasinya.


๐Ÿงพ 3. Data Integrity (ALCOA+)

Data harus:

  • Attributable (jelas siapa input)
  • Legible (terbaca)
  • Contemporaneous (real-time)
  • Original
  • Accurate

Plus tambahan (+): Complete, Consistent, Enduring, Available

Kalau data bisa diubah tanpa jejak? ๐Ÿšจ Red flag.


๐Ÿ” 4. Access Control & Security

Nggak semua orang boleh akses semuanya.

Operator ≠ Admin ≠ QA

Harus ada:

  • User ID unik
  • Password policy
  • Role-based access

๐Ÿงช 5. Testing (IQ, OQ, PQ)

Bukan sekadar “sistem nyala”.

  • IQ: instalasi benar?
  • OQ: fungsi sesuai?
  • PQ: jalan di kondisi real?

Kalau cuma dites “klik sana sini”, itu belum validasi.


๐Ÿง  6. Supplier & Software Assessment

Nggak semua sistem harus dibangun dari nol.

Kalau pakai vendor:

Vendor-nya bisa dipercaya nggak?

Cek:

  • Reputasi
  • Dokumentasi
  • Support

๐Ÿ”„ 7. Change Control

Sistem itu hidup. Pasti berubah.

Tapi setiap perubahan harus dikontrol.

Kalau update tanpa kontrol → validasi bisa jadi nggak berlaku.


๐Ÿ“š 8. Documentation

Kalau nggak didokumentasikan, dianggap nggak pernah dilakukan.

Minimal ada:

  • URS (User Requirement)
  • Risk Assessment
  • Test Evidence
  • Report

๐ŸŽฏ Intinya:

CSV itu bukan soal “lulus audit”.

Tapi soal memastikan:

Sistem kita nggak jadi sumber masalah yang diam-diam.

Karena di farmasi, yang dipertaruhkan bukan cuma data…

tapi nyawa manusia.

Kamis, Desember 18, 2025

Penjelasan CSV Sederhana untuk Anak PKL

 

CSV Itu Apa, Sih?

Penjelasan Sederhana untuk Anak PKL Farmasi

Di industri farmasi, hampir semua pekerjaan sekarang dibantu sistem komputer. Mulai dari mesin produksi, alat laboratorium, sampai software seperti Excel, LIMS, atau aplikasi internal.
Masalahnya, kalau sistemnya salah, datanya ikut salah. Dan di dunia farmasi, data salah bisa berujung pada produk bermasalah.

Di sinilah CSV (Computerized System Validation) dibutuhkan.


Analogi Simpel: CSV Itu Seperti STNK dan Uji Kendaraan

Bayangkan sebuah mobil.

  • Mobil baru → harus diuji kelayakannya

  • Sudah dipakai lama → harus dicek berkala

  • Kalau ada modifikasi → diuji ulang

CSV itu mirip uji kelayakan kendaraan, tapi yang diuji bukan mobil, melainkan sistem komputer.
Tujuannya satu: memastikan sistem aman, bekerja sesuai fungsi, dan bisa dipercaya.


Apa Itu Sistem Komputer?

Sistem komputer bukan cuma laptop atau PC.

Dalam farmasi, sistem komputer adalah:

  • Gabungan hardware, software, dan prosedur

  • Digunakan untuk mengolah, menyimpan, atau menampilkan data

Contohnya:

  • Mesin produksi dengan layar digital

  • Timbangan yang menyimpan hasil timbang

  • Alat lab yang menyimpan data analisa

  • Excel yang dipakai untuk data mutu

Kalau sistem ini berhubungan dengan mutu produk, harus dikendalikan.


Lalu, Apa Itu CSV?

CSV adalah pembuktian tertulis bahwa sistem komputer bekerja sesuai tujuan dan konsisten.

Sederhananya:

“Sistemnya dipakai sesuai fungsi, datanya benar, dan risikonya terkendali.”

CSV bukan untuk mempersulit, tapi untuk mencegah kesalahan sebelum terjadi.


Dasar Aturan CSV

CSV bukan kemauan perusahaan, tapi kewajiban regulasi, misalnya:

  • CPOB 2024 – Aneks 7 (BPOM)

  • Prinsip GxP

  • Panduan internasional GAMP 5

Intinya:

Sistem komputer yang berdampak ke mutu wajib divalidasi.


CSV Tidak Selalu Ribet: Pakai Risk Based Approach

CSV tidak berarti semua sistem diperlakukan sama.

Prinsipnya:

  • Risiko tinggi → CSV lebih lengkap

  • Risiko rendah → CSV sederhana

Inilah yang disebut Risk Based Approach.


Langkah Praktis CSV (Versi Fast Track)

1. Buat Daftar Sistem

Langkah pertama: inventaris semua sistem yang dipakai.
Dari mesin, alat lab, sampai software.


2. Klasifikasikan Sistem

Tidak semua alat masuk CSV.

Yang dicek:

  • Apakah ada software?

  • Apakah menyimpan data?

  • Apakah berpengaruh ke mutu?

Kalau iya → lanjut CSV.


3. Initial Assessment (Tanya Jawab Singkat)

Contoh pertanyaan:

  • Apakah sistem ini terkait GxP?

  • Kalau sistem error, dampaknya apa?

  • Data apa yang disimpan?

Dari sini ditentukan:

  • Perlu CSV atau tidak

  • Seberapa kritis sistemnya


4. Cek Kategori Sistem (GAMP 5)

Sistem dikategorikan, misalnya:

  • Software standar

  • Software terkonfigurasi

  • Software custom

Semakin kompleks sistemnya, semakin ketat validasinya.


5. Cek Data Elektronik & Tanda Tangan

Dicek:

  • Apakah ada electronic record?

  • Data apa saja yang tersimpan?

  • Apakah ada electronic signature?

Ini menentukan kedalaman CSV.


6. Pastikan Ada URS

URS (User Requirement Specification) berisi:

  • Kebutuhan user

  • Fungsi sistem

  • Kebutuhan data & keamanan

Kalau belum ada, harus dibuat.


7. Lakukan Kajian Risiko

Kajian risiko untuk menentukan:

  • Bagian mana yang paling kritis

  • Bagian mana yang cukup diuji sederhana

Kajian risiko dikaji ulang berkala, misalnya tiap 5 tahun.


8. Susun & Jalankan IQ, OQ, PQ

  • IQ: sistem terpasang benar

  • OQ: sistem bekerja sesuai fungsi

  • PQ: sistem konsisten dipakai harian

Tidak semua sistem wajib lengkap, tergantung risikonya.


9. Buat Laporan & Review Berkala

Hasil pengujian dibuat CSV Report.
Setelah itu:

  • Sistem ditinjau berkala

  • Perubahan dievaluasi

  • Risiko dicek ulang

CSV memastikan sistem tetap tervalidasi sepanjang siklus hidupnya.


Jangan Lupa: SOP dan Dokumentasi

Semua kegiatan CSV harus:

  • Diatur dalam SOP

  • Didokumentasikan

  • Ada bukti pelaksanaan

Di dunia farmasi:

Tidak ada dokumen = dianggap tidak dilakukan


Penutup

CSV bukan soal banyaknya dokumen, tapi soal kendali risiko.
Dengan pendekatan risk based, CSV jadi masuk akal, efisien, dan tetap patuh regulasi.

Buat anak PKL, pahami satu hal ini:

CSV itu cara industri memastikan sistem komputer bisa dipercaya, hari ini dan seterusnya.

Kamis, Agustus 07, 2025

User Requirement Specifications - Ringkasan dari GAMP 5

  • URS adalah dokumen yang menentukan kebutuhan untuk sistem komputerisasi atau komponen system.
  • Luasan dan rincian kebutuhan harus sepadan dengan risiko, kompleksitas, dan kebaruan, dan harus cukup untuk mendukung analisis risiko, spesifikasi, konfigurasi/desain, dan verifikasi selanjutnya sesuai kebutuhan.
  • Hasil studi yang ada, seperti analisis kebutuhan bisnis, dapat membantu menentukan cakupan dan detail kebutuhan.
  • Pendekatannya harus bersifat top-down, dan didasarkan pada pemahaman produk dan proses termasuk Critical Quality Attributes (CQAs), dan pemahaman tentang kebutuhan peraturan yang relevan jika diperlukan. Pemahaman ini memfasilitasi penerapan filosofi Quality by Design (QbD).

Aneks 7 CPOB 2024 - Mengulik Sedikit Bagaimana Ketentuannya - Rangkuman Singkat

 Prinsip dalam Aneks 7 CPOB 2024

  • Berlaku untuk semua sistem komputerisasi terkait CPOB
  • Validasi aplikasi dan kualifikasi infrastruktur IT
  • Penggantian operasi manual tidak boleh menurunkan kualitas atau meningkatkan risiko
  • Fokus pada integritas data, kualitas produk, dan keamanan pasien

Prinsip Utama

Penggantian operasi manual dengan sistem komputerisasi tidak boleh menurunkan kualitas produk atau meningkatkan risiko proses.


Manajemen Risiko pada Siklus Hidup Sistem:

  • Penerapan manajemen risiko sepanjang siklus hidup
  • Penilaian risiko menentukan tingkat validasi dan pengendalian
  • Mengutamakan keamanan pasien, integritas data, dan kualitas produk
Validasi dan Dokumentasi Sistem
  • Validasi meliputi semua langkah siklus hidup
  • Pengguna berwenang harus memastikan sistem sesuai standar mutu
  • Audit trail dan pengendalian perubahan harus terdokumentasi

Kolaborasi Personel dalam Sistem Komputerisasi

  • Peran terbagi menjadi Pemilik Proses, Pemilik Sistem, IT, dan Personel Berwenang
  • Personel harus memiliki kualifikasi yang tepat
  • Tanggung jawab jelas dalam operasional dan pemeliharaan sistem
Pengelolaan Pemasok dan Penyedia Jasa
  • Perjanjian formal dengan pemasok/penyedia jasa harus ada
  • Pemasok harus dievaluasi dari segi kompetensi dan keandalan
  • Dokumentasi produk COTS harus dikaji pengguna
Pengelolaan dan Keamanan Data
  • Data harus diamankan secara fisik dan elektronik
  • Back-up data dilakukan secara rutin dan diuji validitasnya
  • Sistem harus dapat mencetak data yang tersimpan dengan jelas
Audit Trail dan Pengendalian Data
  • Sistem harus mencatat setiap perubahan atau penghapusan data
  • Audit trail harus bisa dikaji dan tersedia dalam format umum
  • Pengelolaan audit trail didasarkan pada penilaian risiko


Senin, Maret 14, 2022

Laporan Kosong / Blank Report - Clarion Preview tidak Muncul - HAPIS

 


Untuk catatan pribadi. Masalah terjadi ketika akses program HAPIS dari komputer Client langsung shortcut ke file exe di server, tanpa ada proses installasi apa-apa di komputer client. 

Ketika buka program, tidak ada masalah dan bisa digunakan dengan normal. Cuma terkendala ketika buka laporan, akan muncul tampilan kosong, cuma ada tulisan judul Clarion Preview.

Setelah ditelusuri, ternyata untuk memunculkan laporan tersebut membutuhkan file ntwdblib.dll.

Apa itu  ntwdblib.dll? Kabarnya sih, itu adalah sebuah modul MS SQL Server Database dari Microsoft.

Singkat cerita, untuk mengatasi masalah tersebut, copy file tersebut dari tempat lain (atau download), kemudian diletakkan di folder C:\Windows\System32 (untuk Windows 32 bit) atau C:\Windows\SysWOW64 (untuk Windows 64 bit).

Setelah dicoba lagi, laporan sudah muncul seperti yang diharapkan.

Senin, Januari 27, 2020

Troubleshooting: Cara Reset Printer Canon G1010 error 5B00

Sudah menjadi hal umum, kalau printer inkjet yang kita gunakan secara umum akan menghitung jumlah print setiap kita melakukan print (counter). Setelah digunakan beberapa lama, pada suatu titik tertentu akan sampai pada batas jumlah print yang akan direkomendasikan untuk dilakukan service. Saya pribadi menyarankan ikuti prosedur resmi yang memang didesain oleh vendor printer tersebut.

Sama halnya dengan printer Canon Pixma G1010 akan mencapai titik harus melakukan  service pada titik tertentu dengan error 5B00. Seperti yang ssaya sarankan sebelumnya, segera bawa ke service center terdekat. Namun, ada kalanya kita membutuhkan printer sesegerea mungkin sehingga tidak akan sempat kalau harus membawanya dulu ke service center yang notabene gak banyak seperti orang jualan kacang.

Dalam keadaan terdesak dan genting (semoga tidak), kita bisa melakukan reset secara manual. Banyak yang menawarkan software bahkan chip untuk mengatasi masalah reset printer tersebut. Kalau yang pernah saya coba, masih gagal menggunakan software Service Tool yang ada. Akhirnya setelah searching, ketemu link youtube yang menyediakan tutorial cara reset printer. Ada di channelnya: https://www.youtube.com/channel/UCRByhS6sHZzjkmm6yWQJZOQ.

Langkahnya:
  1. Dalam kondisi printernya mati, tekan dan tahan tombol Power dan Resume secara bersamaan. Setelah itu, penekanan tombol resume boleh dilepas.
  2. Tekan tombol Resume 2 x.
  3. Matikan printer dengan menekan tombol Power.
  4. Masuk ke "Service Mode" dengan cara:
  5. Tekan tombol Power dan tahan. 
  6. Sambil menahan penekanan tombol Power, tekan tombol Resume 5x.
  7. Lepas penekanan tombol power.
  8. Printer akan terdeteksi sebagai device baru, biarkan saja sampai selesai.
  9. Tekan tombol Resume sebanyak 6x.
  10. Tunggu beberapa saat (setengah menit).
  11. Tekan tombol Power 2 x.
  12. Cabut kabel power sampai indikator power mati.
  13. Tancapkan lagi kabel power.
  14. Nyalakan printer dengan tekan tombol power seperti biasa,
  15. Printer sudah bisa digunakan lagi.

Sudah saya praktekkan sendiri, dan bisa. Semoga beruntung.

Terimakasih.

Kamis, Mei 31, 2018

Troubleshooting error: Failed to connect to windows service di windows 7 (solved)

Ceritanya, lagi asik menata dokumen di ruangan yang cukup berantakan, telpon kantor berdering keras memekikkan telinga, sebenarnya sih biasanya memang suaranya seperti itu...tapi karena sekarang kondisinya lagi gak biasa...jadi terdengar sedikit mengganggu...agak-agak gimana gitu....! Ya...seperti perasaan anak kecil yang setiap hari selama satu bulan menyisihkan uang jajannya untuk ditabung...setelah terkumpul dipake buat beli es krim kesukaannya...terus..di perjalanan mau pulang naik ojek...es krimnya jatuh ke jalan....kemudian digilas sama buldozer yang sedang lewat...lalu tiba-tiba hujan deres (pake petir dan angin)...dan ojeknya mogok persis 300 meter sebelum gang masuk rumah...padahal jalannya barusan dibongkar untuk diperbaiki
(gak segitunya juga sih).

Kembali ke masalah awal, telpon tadi adalah panggilan meminta bantuan untuk benerin komputer...masalahnya sih cuma gak bisa login meskipun user dan passwordnya sudah dipastikan benar.

Akhirnya setelah meluncur ke TKP, ketika user login, muncul pesan "Failed to connect to windows service" yang isinya "Windows could not connect to the system event Notification Service service. This problem prevents standard users from logging on to the system. As an Administrative......dst.". 

Setelah nyari-nyari referensi, muncul beberapa alternatif penyelesaian dan akhirnya saya pilih solusi berikut:

Reset the Winsock Catalog

 1.  
Buka Command Prompt sebagai Administrator "Run as Administrator."
 2.  
Ketik pada command prompt “netsh winsock reset” (tanpa tanda petik) dan tekan tombol Enter.
 3.  
Kemudian Restart komputernya.


Setelah dicoba lagi, user sudah bisa login seperti biasa.

"demi apa?"... (jadi ingat teman saya Rahma... )

 

Rabu, Oktober 18, 2017

Error ETAX-30009 Tidak Bisa Buat PDF Faktur - Solved

Permasalahan Error ETAX-30009 ketika membuat file pdf dari komputer client banyak dialami ketika efaktur diupdate menjadi versi 2.0 (karena memang ada arahan untuk update Efaktur ETaxInvoice ke versi 2.0). Padahal ketika dibuat di computer server, tidak ada masalah error tersebut. Termasuk di tempat saya bekerja juga mengalami hal yang sama pada computer client.

Setelah googling, ada beberapa solusi di beberapa tempat dan dianggap berhasil sesuai penjelasan masing-masing yang berbagi solusi.

Namun ketika dicoba beberapa alternative cara tersebut, masalah ETAX-30009 masih belum bisa diselesaikan.

Akhirnya, mencoba mencari cara sendiri karena masih ada celah variasi solusi yang bias diselesaikan. Kalau dilihat penjelasan dari berbagai sumber, intinya ada masalah SE (Sertifikat Elektronik) di client meskipun SE di server sudah diupdate dengan SE yang terbaru.

Cara yang menurut saya berhasil dilakukan di tempat kerja saya adalah menggabungkan beberapa saran cara yang sudah diposting di tempat lain.

Berikut langkahnya:
Langkah 1:

Rename folder database client yang ada sekarang (biasanya di C:\EFaktur_Windows_32bit\db\ETaxInvoice) menjadi ETaxInvoiceOld

Langkah 2:

Copy folder database (ETaxInvoice) yang ada di server ke lokasi database di client.
Jangan lupa copykan juga SE (Sertifikat Elektronik) terbaru yang digunakan server ke komputer client (saran lokasi di folder "C:\EFAktur_Windows_32bit\" saja).

Langkah 3:

Buka ETaxInvoice dengan mengakses database local/lokal, kemudian login dengan user dengan level Administrator. Tujuannya untuk menambahkan SE.

Langkah 4:

Tambahkan SE melalui menu Referensi - Administrasi Sertifikat. Lakukan seperti menambahkan SE di komputer server.

Langkah 5:

Coba buat pdf di menu yang biasanya digunakan. Kalau bisa, tutup ETaxInvoice kemudian jalankan lagi sebagai client dengan konek database ke server. Login menggunakan user client seperti biasanya. Kemudian dicoba lagi buat pdf. Kalau menurut pengalaman di tempat kerja saya, cara di atas sudah berhasil.

Semoga di tempat lain juga bisa diselesaikan dengan cara di atas.


 

Jumat, Mei 08, 2015

Cara Downgrade dan Aktivasi Lisensi Windows 8 Pro dengan Preinstalled Windows 7 Pro 64bit menjadi Windows 7 Pro 32bit

Komputer built-up baru yang sekarang banyak beredar untuk target pasar business kebanyakan menggunakan lisensi Windows 8 Pro OEM yang kadang-kadang sudah preinstalled Windows 7 Professional 64 bit. Dan kadang juga sudah disertakan OS Recovery DVD Windows 8 Pro dan Windows 7 Pro 64 bit beserta DVD Drivernya. Sehingga bisa digunakan jika ingin menginstall ulang kembali Windows dengan kedua versi Windows tersebut.

Masalah muncul ketika di tempat kerja kita masih menggunakan aplikasi 16bit atau aplikasi berbasis DOS karena dua jenis program tersebut sudah tidak disupport oleh Windows 7 Pro 64bit, apalagi Windows 8 Pro 64bit. Seperti pengalaman saya pribadi sebagai teknisi IT di perusahaan yang masih menggunakan program tersebut. Sehingga opsi yang paling aman menurut saya adalah mengganti OSnya menjadi Windows 7 Pro 32bit meskipun ada alternatif lain yaitu menggunakan virtual mesin seperti Virtual PC, Virtual Box atau sejenisnya. Karena di perusahaan tempat saya bekerja berkomitmen untuk menggunakan software legal, daripada beli lisensi windows tambahan untuk virtual mesin, satu-satunya cara yang paling “aman” adalah menginstall ulang OSnya dengan syarat, sudah tersedia driver untuk perangkat-perangkat komputer tersebut (bisa dilihat di website resminya).

Stiker COA Windows 8 Pro sudah tidak seperti Windows sebelumnya. Pada stiker tidak dicantumkan Product Keynya karena Product Keynya tersimpan di BIOS. Dengan menggunakan tool tertentu (bisa disearching di Google), bisa kita dapatkan Product Key tersebut dari BIOS. Tapi tenang, bukan itu yang jadi masalah, cuma info saja.

Kalau kita berfikir normal sederhana, akan jadi masalah ketika downgrade Windows 7 Professional 64 bit menjadi Windows 7 Professional 32 bit adalah kita butuh DVD OS Recovery Windows 7 Pro 32bit yang notabene tidak disertakan pada pembelian komputer baru tersebut atau bisa menggunakan installer Windows 7 Pro 32 bit yang umum tapi kita tidak punya Product Key windows tersebut untuk aktivasi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, banyak alternatif cara yang disarankan oleh netizen di berbagai forum menggunakan tool tertentu atau cara tertentu. Bagi saya, sekali lagi saya akan memilih cara yang paling “aman” dari berbagai solusi yang ditawarkan tersebut.

Langkah pertama adalah mencoba memahami preinstalled Windows 7 64 bit yang sekarang terinstall di komputer tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Preinstalled Windows 7 64bit biasanya sama hasilnya jika kita melakukan installasi Windows menggunakan CD/DVD OS Recovery Windows 7 64 bit yang sudah disediakan pada saat pembelian komputer tersebut.
2. Install Windows 7 Pro 64bit menggunakan OS DVD Recovery biasanya tidak membutuhkan Product Key dan OSnya sudah teraktivasi.
3. Ada beberapa perbedaan pada hasil installasi Windows 64 bit menggunakan OS DVD Recovery dengan hasil installasi menggunakan installer umum, salah satunya adalah folder OEM yang ada di C:\Windows\System32\ yang tidak kita jumpai jika install OS menggunakan installer umum. Di dalam folder ini berisi file lisensi windows OEM yang digunakan.

Langkah kedua adalah backup file atau folder dan registry untuk kepentingan aktivasi windows dan mengubah tampilan windowsnya mirip dengan yang sekarang terinstall. Berikut adalah daftar yang harus dibcakup untuk jaga-jaga: (contoh yang saya gunakan adalah komputer HP Prodesk 490 G2)
- %SystemRoot%\system32\oobe\INFO (folder ini berfungsi untuk merubah background awal windows startup defaultnya HP)
- %SystemRoot%\system32\OEM (folder beratribut hidden ini berisi file lisensi yang kita butuhkan. Dalam kasus saya, nama filenya oem-cert.xrm-ms)
- C:\SYSTEM.SAV (folder ini ber-atribut system dan hidden, sehingga harus disetting dulu explorernya agar bisa melihat folder atau file yang ber-atribut hidden dan system. Folder ini berisi logo merk komputer, dalam kasus saya merk HP).
- C:\Users\NamaUser\AppData\Local\Microsoft\Windows\Themes\oem.theme (ini adalah file theme HP defaultnya komputer HP).
- %SystemRoot%\web\wallpaper\HP1.jpg (ini adalah file image yang digunakan untuk wallpaper sesuai dengan settingan yang ada pada oem.theme)
- Export registry key berikut melalui regedit: [HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\OEMInformation] (registry ini menyimpan informasi OEM komputer tersebut)

Kalau sudah dibackup, kita siap dengan langkah berikutnya.

Langkah Ketiga, download dan jalankan tool ABR (Activation Backup and Restore) dari http://directedge.us/content/abr-activation-backup-and-restore. Tool ini bisa digunakan untuk membackup aktivasi windows, tapi saya menggunakannya cuma untuk mengetahui product key yang digunakan oleh Preinstalled Windows 7 Pro 64 bit yang nantinya saya gunakan kembali untuk aktivasi Windows 7 Pro 32 bit.

Langkah Keempat, install Windows 7 Professional 32 bit menggunakan installer Windows 7 Professional OEM umum yang bisa didownload dari Microsoft. Usahakan lebih baik install tanpa harus memformat harddisknya. Kalau tidak diformat, installer windows akan otomatis mengubah installasi windows yang sekarang adamenjadi Windows.old, sehingga jika masih ada yang lupa kita backup masih ada di folder tersebut. Ketika diminta product key, dikosongi dulu saja dan lanjutkan proses installasi windowsnya sampai selesai. Jika sudah selesai, install semua driver perangkat yang dibutuhkan.

Langkah Keempat, letakkan kembali folder yang dibackup pada langkah kedua tadi ke posisi masing-masing persis seperti ketika membackupnya serta jalankan juga file reg yang kita export sebelumnya. Khusus file theme, bisa kita letakkan di C:\Windows\Resources\Themes\ kemudian restart komputernya.

Langkah Kelima, jalankan command prompt (cmd) dengan mode “Run as administrator”. Setelah muncul, ketikkan perintah “slmgr -ilc C:\Windows\System32\OEM\oem-cert.xrm-ms” (untuk menginstall file lisensi yang sudah kita backup sebelumnya) lalu tekan enter dan tunggu sampai ada popup windows yang mengatakan kalau lisensi berhasil diinstall.

Langkah Keenam, lakukan aktivasi windowsnya dengan cara klik kanan Computer – Properties. Pada bagian Windows Activation, klik change product key, masukkan product key yang kita backup sebelumnya menggunakan tool ABR pada langkah ketiga. Lanjutkan sampai proses aktivasi selesai tanpa harus terkoneksi internet.


Itulah yang saya lakukan untuk mendowngrade Preinstalled Windows 7 Professional 64bit menjadi Windows 7 Professional 32 bit pada beberapa komputer yang dibeli perusahaan.

Semoga sharing pengalaman ini bermanfaat.

Senin, Januari 13, 2014

Masalah "Warning: session_start() [function.session-start]: Cannot send session cache limiter - headers already sent" di PHP - bagian 2

Pada tulisan sebelumnya:
"Warning: session_start() [function.session-start]: Cannot send session cache limiter - headers already sent"
Pesan error di atas muncul bukan karena salah ngetik script php. karena itulah hal ini membuat saya bingung sampai beberapa hari. Apalagi jika settingan web servernya tidak menampilkan pesan error, malah tambah bingung...! ...
============================

Setelah beberapa lama, ada lagi permasalahan yang sama yang dialami teman waktu belajar php. Katanya sudah mencoba solusi yang saya tawarkan...tapi tetep aja muncul masalahnya. (sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya gak gatal)

Untuk membantu teman tersebut, akhirnya saya coba cari-cari lagi di google. Eh...ternyata pada halaman hasil pencarian di google...di baris kedua ada hasil pencarian yang depannya ada tulisan [RESOLVED]...dst. (aha...ini mungkin jawabannya..)

Akhirnya saya buka link tersebut (http://board.phpbuilder.com/showthread.php?10310794-RESOLVED-Warning-session_start()-Cannot-send-session-cookie-headers-already-sent) yang juga merupakan forum yang ternyata juga ada bahasan masalah yang sedang kami (saya dan teman saya) alami.

Dibaca-baca...ternyata masalahnya juga bukan karena salah script tapi adalah program editor yang digunakan. Kaitannya dengan jenis atau metode penyimpanan program editor tersebut. Sehingga disitu disarankan agar isi script yang ada dicopy lagi dan buat file baru dengan notepad (editor paling sederhana) kemudian disimpan menjadi file php dengan ENCODINGnya menggunakan ASCII atau UTF-8 without the BOM (byte order mark). Akhirnya saya coba saja...copy script ke file notepad baru dan menyimpannya "Save as Type"nya "All Files" dengan "ENCODING"nya "ANSI".

Dicoba deh...ternyata bisa...! akhirnya masalahnya sudah ketemu. Akhirnya teman saya harus melakukan langkah di atas tersebut pada setiap file php yang muncul masalah serupa.


Rabu, Oktober 31, 2012

Tutorial Contoh Membuat Data Report Database Sederhana dengan Microsoft Visual Basic 6.0

Setelah kita membuat program database sederhana pada posting Tutorial Contoh Program Database Sederhana dengan Microsoft Visual Basic 6.0, kita akan melanjutkan program yang dibuat tersebut dengan membuat laporan untuk menampilkan record yang ada dalam database.


Ada dua langkah utama untuk membuat data report yang sudah disediakan oleh Microsoft Visual Basic 6.0:
  1. Membuat Data Environment.
  2. Membuat Data Report.
Kita buka kembali project sebelumnya yang sudah ada. Misalkan: project program data teman. Kemudian kita buat reportnya. Dengan 2 langkah umum sebagai berikut:



1.      Membuat Data Environment
a.       Pada menu Project, pilih sub menu More ActiveX Designer…, klik Data Environment.


 
b.      Dalam jendela Data Environment,
-          pilih Connection1 kemudian klik kanan dan pilih Properties.



-          Dalam dialog box Data Link Properties, pilih Microsoft Jet 4.0 OLE DB Provider.



-          Klik Next untuk berpindah ke tab Connection.
-          Klik tombol Elipsis (…). Cari file database data teman (DataTeman.mdb).



-          Klik OK untuk menambah designer pada menu anda.

c.       Sekarang kita akan mengenalkan Data Environment dengan database.
-          Klik kanan tab Connection1 dan klik Rename untuk mengubah nama koneksinya. Ubahlah nama tersebut dengan nama Teman.
-          Klik kanan nama tab yang baru (Teman) dan klik Add Command untuk membuat tab Command1.
-          Klik kanan tab tersebut (Command1) dan pilih Properties.
-          Isilah propertinya dengan nilai berikut:
Command Name          = DataTeman
Connection                    = Teman
Database Object           = Table
Object Name                 = Tteman



-          Klik OK. Semua yang dibutuhkan untuk koneksi ke database kita sudah selesai.

d.      Tampilkan jendela properties dan berikan nama untuk data environment dengan nama DenvTeman. Simpan Environment ini pada folder project anda dengan cara klik File -- Save DenvTeman.dsr



Tampilan akhir langkah 1:


2.        Membuat Data Report
a.       Pada menu Project, klik Add Data Report




b.     Isilah properties pada report seperti berikut:
Name                          = rptTeman
Caption                      = Daftar Nama Teman
DataSource                = DEnvTeman                   (dipilih, jgn dketik)
DataMember             = DataTeman                    (dipilih, jgn dketik)
c.  Klik kanan Report dan klik menu Retrieve Structure. Hal ini akan membentuk report dengan dasar format seperti pada Data Environment.
d.      Dalam file report terdapat lima bagian: Report Header, Page Header, Detail Section, Page Footer, dan Report Footer.
-   Page Header dan Page Footer berisi informasi yang ingin ditampilkan pada setiap halaman.
-   Detail Section digunakan untuk membuat layout informasi yang ingin anda cetak dari setiap record pada file database anda.
e.   Tambahkan data report controls yang diperlukan untuk menampilkan infrmasi yang kita inginkan.
-          Untuk menambahkan contrrol yang digunakan dengan klik kanan, pilih Insert Control, kemudian pilih control yang diperlukan untuk dipasang.


 -       Khusus untuk detail sections, kita bisa menambahkan textbox untuk menampilkan data pada bagian ini dengan cara: pada jendela Data Environment (DEnvTeman), klik field yang diinginkan (misal: Nama) kemudian drag ke bagian detail pada data report. Dua item akan ditampilkan: sebuah label Nama dan sebuah textbox Nama(DataTeman). Labelnya untuk informasi header, karena itu, pindahkan (drag) ke bagian page header. Sedangkan textboxnya untuk bagian detail, jadi biarkan saja letaknya pada bagian detail sections.
-      Atur control-control lainnya sedemiikian rupa sesuai dengan informasi yang kita butuhkan.


-          Simpan Data reportnya dengan klik menu File - Save rptTeman. Simpan pada direktori tempat project anda.


Data report sudah selesai kita buat. Sekarang kita tambahkan CommandButton pada form yang ada untuk menampilkan laporan yang sudah kita buat sebelumnya.
Ubah propertiesnya sebagai berikut:
Name           = CmdReport
Caption       = Report
Kemudian pada event click, ketikan kode berikut:

Private Sub CmdReport_Click()
    rptTeman.Show 1
End Sub